Setelah kita membahas tentang pentingnya evaluasi kinerja, pada prakteknya sering muncul yang namanya hambatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Evaluasi yang dilakukan tidak memberikan hasil yang diinginkan.
Seyogianya, karyawan yang berprestasi baik akan mendapatkan umpan balik dan meningkatkan prestasinya. Sementara karyawan yang memiliki kinerja kurang baik akan diberi teguran diharapkan melakukan perubahan.
Namun, kebanyakan karyawan yang ditegur justru merasa tidak nyaman dengan hasil penilaian yang diberikan atasannya.
Entah karena cara atasannya mengevaluasi yang kurang sesuai atau persepsi negative karyawan terhadap hasil evaluasi tersebut yang justru membuat dirinya tersinggun ataupun berputus asa. Akhirnya, setelah dievaluasi, kinerjanya bukannya meningkat malah semakin memburuk.
So, berat juga ternyata beban manajer. Di evaluasi salah, tidak dievaluasi lebih salah…
Dengan demikian, manajer harus hati-hati dalam menjelaskan evaluasinya terhadap karyawan, karena pemilik perusahaan berharap kegiatan ini akan menjadi suatu proses yang berlangsung terus menerus dan menjadi bagian integral dari proses interaksi antara manajer dengan karyawan.
Kira-kira, apa ya yang menjadi hambatan dalam penilaian evaluasi prestasi yang adil?
1. PERUBAHAN STANDAR
Standar yang tidak konsisten dan berubah-ubah akan mempengaruhi pengukuran prestasi karyawan. Sebagai contoh, manajer mungkin cenderung memberikan penilaian yang baik terhadap karyawan yang kelihatannya penurut dibandingkan karyawan yang suka membantah, meskipun karyawan tersebut mempunyai prestasi yang bagus
2. HALLO-EFFECT
Hallo effect terjadi apabila penilaian manajer terhadap prestasi karyawan secara keseluruhan hanya bergantung pada satu atau beberapa aspek saja. Efek tersebut merupakan efek berantai. Biasanya hal ini terjadi karena pemimpin melibatkan emosi dalam melakukan penilaian, menilai terlalu lunak atau keras, melibatkan prasangka pribadi, serta menilai berdasarkan data atau fakta dari waktu yang paling akhir saja
3. PERBEDAAN SIFAT MANAJER
Manajer mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. Penilaian karyawan bisa menjadi berbeda karena sifat manajer. Oleh karena itu, disarankan untuk membuat standar/pedoman penilaian secara adil dapat diwujudkan dan karyawan terhindar dari bias yang disebabkan karakter manajer
4. PERBEDAAN STEREOTIPE TERTENTU
Manajer dapat menjadi bias karena faktor etnis, jenis kelamin, atau golongan tertentu. Untuk menghindari hal itu, manajer harus berpegang pada pedoman/standar tertulis dan hasil penilaian prestasi pun harus dilakukan secara tertulis, sehingga dapat dipertanggungjawabkan
Demikianlah hal-hal yang mungkin menghambat penilaian evaluasi kinerja. Mudah-mudahan, sebagai manajer, kita bisa lebih bijaksana dan tidak melakukan penilaian yang tidak berkualitas baik.
Dikutip dari : Manajemen Sumber Daya Manusia, karangan Hj. Ike Kusdyah Rachmawati, SE.MM
D

